GENDER ACTION BUDGET (GAB)
KERANGKA ACUAN KERJA/TERM OF REFERENCE
SUB KEGITAN TA 2026

PERANGKAT DAERAH RSUD Dr. Mohamad Soewandhie
PROGRAM Program penunjang urusan pemerintahan daerah kabupaten/kota
KEGIATAN Peningkatan pelayanan BLUD
SUB KEGIATAN Pelayanan dan penunjang pelayanan BLUD
KINERJA RESPONSIF GENDER pelayanan dan penunjang pelayanan BLUD 100% terlaksana
RENCANA CAPAIAN INDIKATOR KINERJA Indikator Sub Kegiatan: Indikator subkegiatan: Tersedianya pelayanan dan penunjang pelayanan di unit BLUD,Indikator Kegiatan: Terpenuhinya kebutuhan operasional dan penunjang pelayanan kesehatan sesuai standar, Outcome Program: Tercapainya kepuasan pegawai dan standar pelayanan minimal (SPM),Impact: Jumlah BLUD yang menyediakan pelayanan dan penunjang pelayanan 1 unit kerja,
A. LATAR BELAKANG
  1. Dasar Hukum :
    Dasar Hukum: 1.Inpres No. 9 Tahun 2000 menginstruksikan pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional 2.Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan PUG di Daerah. 3.Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 6 Tahun 2023 Tentang Mengatur Parameter Kesetaraan Gender Dalam Peraturan Perundang-Undangan 4.Peraturan Daerah Kota Surabaya No.4 Tahun 2019 Tentang pengarusutamaan Gender
  2. Gambaran Umum :
    Langkah 2: -Jumlah pasien IGD Tahun 2023, L=18.775 (46%), P=22.352(54%), Total=41.127(100%) Tahun 2024, L=23.046(45,9%), P=27.201(54,1%), Total=50.247(100%) Tahun 2025 (Smt I), L=9.533 (47%),p=10.751 (53%), Total=20.284 (100%) -Jumlah pasien klinik rawat jalan Tahun 2023, L=120.848 (43%), P=166.218(57%), Total=287.066(100%) Tahun 2024,L=177.470 (49,3%),P=182.803(50,7%), Total=360.273(100%) Tahun 2025 (Smt I),L=71.494 (40,1%), P=102.942 (59%), Total=174.436(100%), Data total kunjungan pasien rawat inap Tahun 2023, L=13.329 (48%), P=14.504 (52%), Total =27.833 (100%) Tahun 2024, L=14.789 (48%), P=16.281 (52%), Total=31.070 (100%) Tahun 2025 (Smt I),L=4.412 (44%), P= 5.555 (56%), Total=9.967 (100%), -Jumlah pasien balita gizi buruk dan stunting rawat inap Tahun 2023, L=193 (56%), P= 150 (44%), Total=343 (100%) Tahun 2024, L=183 (57,4%),P=124 (42,6%), Total= 307 (100%) Tahun 2025 (Smt I), L= 73 (44%), P=61 (56%), Total=134 (100%), -Jumlah SDM yang mengikuti pelatihan/diklat/seminar/workshop eksternal Tahun 2023, L=117 ( 28%), P= 301 (72%), total=418 (100%) Tahun 2024, L=20 (46,5%), P= 23 (53,5%), Total= 43 (100%) Tahun 2025, L=20 (36,3%), P= 32 (63,7%), Total= 55 (100%), -Jumlah SDM yang mengikuti pelatihan/diklat/seminar/workshop internal Tahun 2024, L= 110 (43,3%), P=144 (56,7%), Total= 254 (100%) Tahun 2025, L= 201 (43%), P=266 (57%), Total=467 (100%)
    Langkah 3: - Ketersediaan beberapa alat kedokteran, obat dan profesi jenis tenaga kesehatan tertentu yang hanya bisa di akses oleh masyarakat di faskes tingkat lanjut. - Orangtua tidak tahu jika balitanya mengalami masalah gizi saat perawatan di rumah sakit. - Pendidikan dan pelatihan eksternal dan internal yang diikuti oleh SDM RS harus tetap memperhatikan komposisi dan jumlah SDM dan pasien di ruang perawatan,agar proses pelayanan kesehatan di ruangan tetap berjalan dengan baik., -Partisipasi masyarakat dalam upaya kesehatan preventif dan promotif yang masih rendah sehingga permasalahan kesehatan berkembang menjadi kuratif dan rehabilitatif. -Orangtua tidak segera membawa balitanya saat memperoleh rujukan rawat inap dari puskesmas/fasilitas kesehatan tingkat pertama. -Peran dan kontrol ayah terkait pentingnya tumbuh kembang untuk anak masih rendah., -Kontrol upaya kesehatan preventif dan promotif di masyarakat belum optimal. -Kurangnya kontrol dan kewaspadaan orang tua dalam mengamati tumbuh kembang balitanya, -Masyarakat kurang menyadari manfaat dari upaya kesehatan preventif dan promotif -Beberapa orang tua tidak membawa balitanya ke RS untuk melakukan kontrol pertama pasca perawatan dari RS
    Langkah 4: -Perkembangan ilmu kesehatan mutakhir sehingga SDM RS perlu meng-update kompetensinya. -SDM yang dirotasi ke unit lain membutuhkan pelatihan agar pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan diunt baru dapat di pahami dengan baik.
    Langkah 5: -Kelanjutan perawatan balita stunting yang mendapatkan resep susu, harus mengambil di puskesmas selaku FKTP. -Peserta universal health coverage kota Surabaya tiap tahun meningkat sehingga fasilitas pelayanan kesehatan dituntut flexible menyediakan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat.
B. PENERIMA MANFAAT pemenuhan kebutuhan gizi pasien dan pendidikan pelatihan SDM terpenuhi
C. STRATEGI UNTUK MENCAPAI KINERJA
  1. Tujuan Reformulasi:
    -Memenuhi kebutuhan operasional pelayanan dan penunjang pelayanan di RS
  2. Rencana Aksi
    1. Aktifitas :
      1. Pengelolaan pelayanan kesehatan gizi pasien dan tenaga beresiko 2. Pendidikan dan pelatihan SDM rumah sakit baik imternal maupun eksternal
    2. Metode Pelaksanaan :
      • Secara swakelola dan melalui penyedia barang jasa.
    3. Jadwal :
      Dilaksanakan pada tahun 2026
  3. Biaya Yang Diperlukan: 300577963476
 
Mengetahui,
Kepala RSUD Dr. Mohamad Soewandhie
Kota Surabaya
 
dr. Billy Daniel Messakh, Sp.B
NIP.